Menanti Kematian

|

Dalam perjalanan spiritualnya, Sidharta Gautama (Buddha Sakyamuni) pernah bertemu dan bersahabat dengan seorang pertapa bernama Asaji. Asaji adalah seorang pertapa dengan usia yang masih sangat muda. Dalam perjalanannya bersama Sidharta, Pertapa Asaji pernah mengalami sakit keras yang hampir membawanya pada kematian tetapi berkat pengetahuan Sidharta dalam bidang obat-obatan akhirnya Asaji berhasil diselamatkan. Dalam sakit kerasnya Asaji sempat mengalami mati suri dan dari sejak kejadian tersebut Asaji mulai memiliki karunia untuk meramal nasib seseorang. Asaji bahkan sempat menyampaikan ramalan atas dirinya sendiri pada Sidharta. Asaji mengatakan bahwa usianya tinggal enam tahun lagi, dan tepat pada tahun keenam dirinya akan menjadi makanan hewan. Mengdengar itu Sidharta menjadi sangat terpukul dan sedih.Tetapi Asaji sendiri tetap bersikap tenang dalam menghadapi tahun-tahun menjelang kematiannya.Inilah yang sempat menjadikan Sidharta bertanya-tanya dalam batinnya, bagaimana bisa seorang dapat demikian tenangnya dalam menghadapi kematiannya. Pada waktu itu Sidharta belum mengalami pencerahan dan belum menjadi seorang Buddha.

Tepat menjelang hari yang diramalkan Asaji sebagai hari kematiannya, Sidharta bersikeras menjaga Asaji semalaman agar Asaji tidak dimakan oleh binatang buas.Tetapi pada keesokan paginya ketika Sidharta bangun, Sidharta langsung terkejut mengetahui sahabatnya sudah tidak berada di dekatnya. Sidharta pun langsung begegas mencari sahabatnya itu. Dan betapa terkejutnya Sidharta ketika mendapati sahabatnya itu sedang berada di dekat sarang serigala. Di sana terdapat beberapa anak serigala yang sedang lemas karena kelaparan. Asaji memandang iba pada serigala-serigala tersebut, kemudian Asaji dengan tenangnya merebahkan diri di antara anak-anak serigala tersebut sambil berkata, "bersabarlah, sebentar lagi induk kalian akan datang dan saat itu induk kalian bisa membagi rata dagingku untuk kalian semuanya sehingga tidak ada lagi yang kelaparan". Selang beberapa saat induk serigala pun datang dan langsung mencabik-cabik tubuh Asaji. Terlambat bagi Sidharta untuk menghalau induk serigala tersebut. Sidharta akhirnya harus melihat dengan kedua matanya sendiri secara langsung proses kematian dari sahabatnya ini. Suatu proses kematian yang tidak dijalani dengan rasa takut ataupun sedih oleh di pelakunya melainkan dengan sebuah senyum karena kematiannya telah memberi kesempatan untuk hidup bagi makhluk-makhluk lainnya.
Benar-benar suatu peristiwa yang menjadikan seorang Sidharta tertegun dan menjadikan batinnya tergoncang keras.

Catatan:
Tulisan ini aku susun berdasarkan referensi dari komik Buddha yang diterbitkan oleh KPG

0 comments: