Dualisme Perspektif Jabatan

|

Menjelang moment yang sering disebut sebagai pesta demokrasi (tetapi acap kali lebih layak disebut pesta democrazy), di sepanjang jalan dan di banyak media mulai marak dipadati beraneka macam atribut dengan berbagai warna-warna mencolok. Banyak golongan berjuang mati-matian untuk merebut simpati rakyat sehingga dirinya atau golongannya bisa beroleh dukungan suara untuk dapat menduduki suatu porsi jabatan tertentu. Ha3.. kondisi yang nampaknya memang banyak muncul dan ditemui bukan hanya di arena politik melainkan juga di lingkungan kerja, lingkungan organisasi, dan komunitas-komunitas lainnya.

Aku jadi teringat sebuah pesan / pernyataan dari seseorang yang pernah aku temui dalam hidupku ketika masih duduk di bangku kuliah dulu. Beliau pernah berkata bahwa ada dua cara untuk melihat karakter seseorang yang sebenarnya. Cara pertama adalah dengan memeberikan tekanan atau preasure pada hidupnya. Cara ini biasa dilakukan oleh beberapa pusat-pusat pelatihan manajemen ketika menyelenggarakan pelatihan berkaitan dengan tim building atau kepemimpinan. Cara yang kedua adalah dengan memberikan jabatan tertentu pada seseorang. Nah cara kedua inilah yang aku rasa sangat unik. Menurut beliau ketika seseorang diberi jabatan atau kekuasaan, seseorang seolah diberi penguat / booster terhadap karakter aslinya. Kita sebagai orang luar yang peka akan dapat melihat karakter-karakter dominan dari orang tersebut. Seseorang yang rakus tentunya akan menjadi semakin rakus setelah menjabat. Demikian juga seseorang yang malas akan berlarut dalam kemalasannya. Yang kejam akan menjadi makin bengis dan melampiaskan kebengisannya untuk memuaskan dendam kesumat yang membara sekian lama dalam hatinya. Yang apatis juga akan menjadi makin mati rasa dan tidak peduli, yang dipikirkannya hanyalah tunjangan jabatan yang bisa makin menggemukkan pundi-pundinya. Tetapi tidak berarti suatu jabatan berdampak buruk. Di tangan seseorang yang memang memiliki kamampuan manajerial yang baik, suatu jabatan justru akan semakin megembangkan dirinya dan organisasi yang dikelolanya. Seseorang yang penuh taggung jawab dan kasih tentunya juga akan selalu berdialog dengan hati nuraninya setiap kali akan mengambil suatu kebijakan tertentu. Orientasi dari orang-orang semacam ini ketika menjabat bukanlah karena tunjangan jabatan yang diharapkannya setiap periode guna meningkatkan nominal saldo depositonya. He3.. aku jadi terkenang pada pesan Uncle Ben nya Peter Parker dalam kisah Spiderman. Di balik kekuatan yang besar terdapat tanggung jawab yang besar juga :)

Berbicara tentang jabatan, aku juga jadi teringat dengan pernyataan salah satu rekan kerjaku. Beliau adalah orang yang sangat aku hormati karena aku melihat dedikasi dan totalitasnya yang luar biasa dalam pekerjaannya. Beliau pernah mengatakan kepadaku bahwa ada dua persepsi yang bisa diambil oleh seseorang ketika seseorang menjabat suatu jabatan tertentu. Ada beberapa orang yang memandangnya sebagai menduduki jabatan. Tetapi ada juga yang memandang dan menjalaninya sebagai memangku jabatan. He3... sangat menarik sekali pernayataan pencerah yang kudapat ini :)

Untuk saat ini, dalam lingkungan kerjaku mengharuskan aku untuk menjabat sebagai seorang sekretaris jurusan. He3.. aku jadi menanyakan kembali pada diriku sendiri. Perspektif manakah yang aku miliki selama menjabat? Apakah aku sedang menduduki jabatan? Ataukah aku sedang memangku jabatan?
Kiranya Tuhan membimbing diriku melalui hati nuraniku agar proses menjabat yang sedang aku jalani ini makin mendewasakan dan mennyempurnakan proses evolusi diriku sebagai seorang makhluk ilahi dan bukannya malah menjerumuskan aku menjadi sesosok makhluk bengis yang penuh kenajisan.

0 comments: