Anak-Anak

|

Sabtu, 23 July 2005

Di siang hari yang cerah ini terdengar suara gelak tawa kanak-kanak yang
sedang bermain di sekitar rumah kontrakanku.
Anak-anak yang penuh dengan keceriaan dan kepolosan.
Anak-anak yang biasanya hanya bermain di luar halaman rumah, kali ini mulai memberanikan diri
untuk melewati pagar dan memasuki halaman.
Rupa-rupanya mereka ingin mengambil biji-bijian dari pohon yang ada di halaman rumah.
Entah apa nama pohonnya, yang kutahu pohon itu menghasilkan biji-bijian berwarna merah.
Warna yang memang cukup menarik perhatian bagi seorang anak.
Mereka mulai mengumpulkan biji-bijian itu dengan penuh keceriann.
Sesekali juga diiringi jeritan-jeritan dan gelak tawa sebagai wujud ekspresi kegembiraan mereka.
Benar-benar suatu bentuk kehidupan yang indah.
Indah, ceria, dan polos walau terkesan agak brutal bila tidak diberi suatu pengarahan dan pengajaran.
Wah... sekarang mulai terdengar suara tangis dari seorang anak.
Suara tangis yang cukup keras.
Sebuah tangis yang menghasilkan butir air mata sebagai tanda ketidaknyamanan.
Seringkali juga digunakan sebagai tanda ketidaksetujuan.
Sebuah bentuk ekspresi yang sangat sederhana.
Selang beberapa detik saja, tangis itu sudah berubah kembali jadi tawa dan canda.
Wah... benar-benar luar biasa sekali.
Benar-benar pola perilaku berekpresi yang indah.
Rasa-rasanya, dulu aku pun pernah mengalami fase semacam ini.
Tapi ke manakah sekarang tangis dan tawaku?
Saat ini aku memang masih memiliki tawa, tapi bukan tawa seperti mereka.
Saat ini pun aku masih memiliki tangis, tapi bukan tangis seperti mereka.
Tangis dan tawa ekspresif dan lepas yang memberi warna pada hari-hariku.

0 comments: