Paris Van Java, I'm coming.....

|

Kamis, 25 Agustus 2005

Sore hari ini bisa jadi merupakan sore hari terindah sejak aku dilahirkan ke dunia ini.
Aku menerima kabar bahwa aku diterima sebagai dosen di IT Maranatha Bandung!!!!!
Wahhhhh senangnya................
Setelah mendapat telp dari Pak Andi (Ketua jurusan Teknik Informatika IT Maranatha) aku langsung teriak2
kayak orang gila yang baru dilepas dari kerangkeng :)
Yes!!! Yes!!! Yes!!!
Suasana hatiku mendadak berubah secara ekstrim.
Padahal pagi hari tadi aku masih dirundung suasana tegang menanti jawaban dari IT Maranatha.
Horeeeeeeee..........................
Saking senangnya, aku sampai2 mengirimkan SMS ke banyak orang.
Pulsa ku sampai habis....
He3... ini gara2 ada beberapa orang yang aku kirimi lebih dari satu SMS.
Maklum aja kalau sudah senang seperti ini suka lupa diri :p
Bentar lagi jadi warga Bandung nich :)
Mulai ganti gaya bahasa dari Jawa ke Sunda
Paris Van Java, I'm coming.....

The Butterfly Effect

|

Jumat, 19 Agustus 2005

Ada film yang sangat menarik yang baru saja aku tonton.
Film ini berjudul "The Butterflt Effect".
Benar2 film yang bisa membaca dan menjawab rasa penasaran dan keiinginan terdalamku.
Aku memang selalu menginginkan untuk dapat kembali ke masa kecilku tetapi
dengan pemikiran yang aku miliki saat ini.
Aku ingin memperbaiki keadaan.
Yup, aku ingin memperbaiki setiap kesalahan yang telah aku buat.
Aku ingin menjadikan segalanya jauh lebih baik dari apa yang ada saat ini.
Film ini telah menyadarkanku bahwa apa yang telah terjadi di masa lalu biarlah terjadi.
Jadikanlah itu sebagai pelajaran dan kenangan yang penuh makna dan manis untuk diingat.
Dan setiap hal sekecil apapun yang kita lakukan saat ini akan membuat
suatu perubahan besar untuk masa yang akan datang.
Benar2 film yang sangat menarik dan inspiratif lagi kontemplatif :)

"It has been said that something as
small as the flutter of a butterfly's
wing can ultimately cause a typhoon
halfway around the world"

"Change one thing, Change everything"

Another Story from Salatiga

|

Rabu, 17 Agustus 2005

Babak 1:
Setelah mengalami pengalaman unik di Salatiga beberapa waktu yang lalu, hari ini aku
akan melakukan perjalanan kembali ke kota itu.
Seperti biasa, aku menggunakan jasa Travel untuk mencapai kota itu.
Aku memesan tiket untuk keberangkatan pukul 4 sore.
Ketika aku memesan, aku diperingatkan oleh salah seorang ticketernya,
"Jadwalnya memang jam 4 sore, tapi kayaknya mas sudah pengalaman dech.
Jadi bisa dikira2 sendiri yach jam pasti keberangkatannya".
Ha3...
Jasa travel yang aku gunakan ini memang terkenal karena keterlambatannya :p
Tapi mau gimana lagi, hanya ini travel yang memiliki rute ke Salatiga.
Setelah memperkirakan keterlambatan waktu penjemputan, aku pun baru bersiap2 berangkat ke
travel agent tersebut sekitar pukul 5 sore.
Sesampainya di sana, aku pun bertanya kira2 berapa lama lagi travelnya akan tiba.
Betapa terkejutnya aku ketika diinformasikan bahwa travel tersebut telah berangkat
setengah jam yang lalu.
Ditambah lagi aku malah kenal omelan si penjaganya.
Benar2 menjengkelkan :(
Travel agent ini memang gila.
Kalau mereka telat, pengguna jasanya yang diminta memaklumi.
Tapi kalau pengguna jasanya yang telat malah diomelin.
Benar2 menyebalkan.
Aku berharap tidak akan pernah lagi menggunakan jasa travel agent ini.
I hope so :p
Ketimbang energiku habis untuk balik memaki2 petugas tersebut, lebih baik aku salaurkan
energiku untuk mengejar bus menuju ke terminal.

Babak 2:
Sesampainya di terminal, aku bertanya2 mengenai bus apa yang bisa aku gunakan
untuk menuju ke Salatiga.
Wah ternyata tidak ada bus dari Jogja yang memiliki rute khusus ke Salatiga.
Aku harus menggunakan bus jurusan Jogja-Semarang.
Tetapi karena sudah terlalu sore, aku hanya bisa mendapati bus jurusan Jogja-Magelang.
Benar2 merepotkan awalnya.
Maklum saja, aku jarang sekali bepergian ke luar kota menggunakan bus.
Lebih sering menggunakan kereta api atau travel.
Ternyata ada uniknya juga bepergian menggunakan bus.
Aku jadi gak boleh ketiduran di bus.
He3... takut kelewatan :p
Wah seru juga sich.
Aku harus menempuh rute perjalanan dari Jogja-Muntilan-Magelang-Ambarawa-Bawen.

Babak 3:
Di terminal Bawen aku mulai kerepotan untuk mencari bus yang menuju ke arah Salatiga.
Apalagi saat itu hari sudah gelap.
Akhirnya aku putuskan untuk berjalan kaki.
Ha3... aku bener2 bego dan tidak memperhitungkan jarak dari terminal Bawen ke Salatiga :p
Sambil jalan aku mencoba mengisi perutku yang sudah mulai keroncongan dengan bekal
roti yang memang sudah aku persiapkan sebelumnya.
Gara2 jalanan yang terlalu gelap, langkahku harus terhenti karena aku terjerembab dalam
kubangan kotor berisi air hujan.
Ah benar2 sial...
Tapi mau dikata apa, namanya juga gak kelihatan :p
Kaus kaki, celana, dan sepatuku jadi basah kuyup dan kotor.
Untung saja aku membawa cadangan dalam tasku.
Di dekat kubangan tersebut ada sebuah warung kecil.
Orang2 di dalam warung tersebut hanya senyum2 kecil melihat kesialan yang baru saja
aku alami :(
Ah sudahlah, mungkin mereka memang membutuhkan hiburan, dan aku hadir sebagai penghibur :)
Ha3...
Aku pun berjalan mendekat ke arah warung tersebut dan mencoba menanyakan alternatif lain
menuju Salatiga selain berjalan kaki.
Di situ ada seorang bapak yang mengatakan bahwa ada bus yang akan melewati setiap 15 menit
yang dapat membawaku ke Salatiga.
Dia memberitahukan di mana aku dapat turun.
Bahkan beliau pun membantuku mencegat bus yang lewat.
Wah terima kasih ya Pak, sudah mau membantu :)

Babak 4:
Akhirnya aku pun sampai di Satya Wacana.
Satu2nya tempat di Salatiga yang aku kenal :p
Jam sudah menunjukkan pukul 10:30 malam.
Aku memang sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi hal buruk seperti saat pertama kali
aku menginjakkan kaki di kota ini.
Kemarin aku sempat mengirimkan SMS ke temanku di Salatiga bahwa aku akan menginap di kostnya.
Tapi rupa2nya SMS ku tidak kunjung dibalas.
Aku berkeyakinan bahwa dia memang sedang berlibur di kota asalnya.
Maklum saja, saat ini khan masa libur akhir semester.
Ya sudahlah, mau dikata apa lagi.
Mungkin memang aku harus menjadi gembel lagi si kota ini :p
Langkah pertama yang harus kulakukan adalah mencari kamar mandi untuk berganti celana dan
kaos kaki yang kotor dan basah kuyup.
Setelah berganti celana dan kaos kaki, langkah berikutnya adalah mencari ruang kelas
yang tidak terkunci yang bisa aku gunakan untuk bermalam.
Jangan sampai aku mati kedinginan gara2 harus bermalam di alam terbuka.
Apalagi saat ini kondisinya sedang gerimis.
Setelah cukup lama keliling, akhirnya aku berhasil menemukan sebuah ruang kelas yang
tidak terkunci.
Wahh... betapa beruntungnya aku :)
Ruangnya lumayan hangat walau suasananya terkesan agak angker.
Maklum saja bangunannya termasuk bangunan tua jaman Belanda.
Walaupun sudah direnovasi tapi kesan kuno nya masih cukup kental.
Aku memang sangat menyukai tipe bangunan semacam ini, tapi tidak untuk di malam hari :p
Ah sudahlah, untuk apa pula aku menakutkan hal2 yang berbau mistik semacam itu.
Yang penting saat ini aku telah menemukan tempat yang tepat dan cukup nyaman untuk aku bermalam.
Aku pun langsung menyalakan lampu dan menata beberapa kursi berjajar
untuk aku jadikan tempat tidur.
Aku gunakan tasku sebagai bantal.
Cukup nyaman juga :)
Sambil menunggu datangnya kantuk, aku pun melanjutkan membaca novel klasik karya Sakai Tsuboi.

Babak 5:
Tak banyak memakan waktu setelah aku membeca beberapa lembar novel tersebut
kantuk mulai menghampiriku.
Aku pun tertidur cukup pulas.
Entah berapa lama aku tertidur, yang jelas di tengan tidurku aku dikejutkan oleh suara orang
yang membangunkanku.
Aku pun cukup terkejut dan terbangun.
Astaga, kulihat dua orang satpam membangunkanku.
Mereka pun mulai menanyai diriku.
"Mas asalnya dari mana? Terus ngapain tidur di sini?"
Langsung saja aku jawab, "Maaf Pak, saya dari Jogja"
"Saya kemalaman datang ke Salatiga"
"Karena tidak memiliki kenalan di sini dan hanya UKSW satu2 tempat yang saya kenal,
maka saya pun memutuskan untuk bermalam di sini"
Akhirnya dengan nada sedikit ketus salah seorang dari mereka menjawab
"Lain kali lapor dulu yach!!!"
Lalu aku jawab "Iya Pak, maaf ya..."
"Ya sudah tidur lagi aja, bisa tidur khan?" Sahut seorang lagi dari mereka.
"Bisa kok Pak, makasih yach", jawabku.
"Oh ya, kami bisa minta kartu identitasnya?
Besok pagi bisa Anda ambil di pos"
Akhirnya aku serahkan KTP ku.
Bikin deg2an aja sich :p
Ha3... Sebenarnya aku sempat dibuat cemas juga.
Jangan2 mereka tidak mengijinkan aku untuk bermalam di ruang kelas itu lagi.
Tapi untunglah mereka masih cukup manusiawi dan mengijinkan aku untuk tetap bermalam di sini.
Trims ya Pak :)
Setelah mereka meninggalkan ruang kelas, aku pun kembali meneruskan tidurku.

Epilog:
Wah.... benar2 pengalaman yang sangat mengesankan.
Hidup ini memang indah selama kita bisa memandangnya dari sisi yang keliru :p
Ha3...
Selalu ada "Blessing in Disguise"
Yup selalu ada "berkat yang tersembunyi" dalam setiap peristiwa yang kita alami.
Nah akhirnya kembali kepada kita masing2, maukah kita mencoba untuk mencari dan memaknainya
Atau malah membiarkannya berlalu begitu saja :)

Terima Kasih

|

Selasa, 16 Agustus 2005

Wahhh malam ini adalah malam perayaan detik2 proklamasi kemerdekaaan Indonesia.
60 tahun sudah bangsa ini merdeka.
Aku benar merasa bangga sekaligus sedih.
Bangga karena bangsaku telah 60 tahun mengalami masa kemerdekaan
tapi sekaligus juga sedih karena bangsa ini belum bisa merasakan "kemerdekaan"
yang seharusnya sudah dimiliki sejak 60 tahun silam.

Malam ini beberapa teman datang ke rumah kontrakan.
Trims yach buat keceriaan yang sudah kalian hadirkan, setidaknya kehadiran
kalian sudah membawa kelegaan yang mengurangi keteganganku.
Barusan dosenku Mr Dito juga menelpon menanyakan rencanaku ke depan.
Rencanaku masih dalam pergumulan nich.
Pergumulan yang sangat menegangkan.
Tapi trims yach Pak sudah memperhatikan mantan mahasiswamu yang "aneh" ini :p
Trims buat pembicaraannya, setidaknya itu pun bisa mencairkan keteganganku.
Terima kasih juga buat Sakai Tsuboi untuk karyanya yang indah
walau tak dapat sepenuhnya kunikmati mengingat suasana hatiku saat ini.
Saatnya merenung lagi.....

Keep Going!!!!

|

Selasa, 16 Agustus 2005

Keputusan telah kubuat dan apapun resikonya harus kutanggung.
Baru saja aku terima mail dari seorang teman, Timo namanya.
Thanks ya Tim buat info dan dukungannya.
Itu benar2 berarti bagiku.
Dua hari lagi adalah hari besar bagiku, aku harus menghadapi ketakutanku.
Aku harus menenangkan diriku.
Aku harus menguasai dan menyeimbangkan emosi dan rasioku.
Malam ini aku benar2 perlu banyak merenung sehingga aku bisa memecahkan dan
mengklarifikasikan permasalahanku dengan sebaik dan sediplomatis mungkin.
Aku harus mampu bermain cantik.
Inilah saatnya bagiku untuk menyatakan pada diriku sendiri bahwa aku adalah makhluk
pemikir yang cukup dewasa dan mampu mengatasi gejolak2 emosional yang irasional.
Sebagai bahan refreshing, aku baru saja meminjam buku berjudul "Twenty Four Eyes"
karya seorang sastrawan Jepang, Sakai Tsuboi.
Berharap karya ini bisa jadi teman yang menyenangkan dan inspiratif dalam perenunganku.
Keep going Boedy!!!!!

Benar-Benar Menengangkan

|

Selasa, 16 Agustus 2005

Dua hari yang lalu aku baru saja mengambil sebuah keputusan yang sangat beresiko. Yup, sebuah keputusan yang akan memiliki pengaruh yang sangat signifikan dalam hidupku. Sebuah keputusan yang menjadikanku susah tidur :( Pokoknya benar2 menegangkan.... Ini berkaitan dengan pekerjaanku. Keputusan sudah aku ambil, saat ini aku tinggal menunggu hasilnya. Menunggu memang aktifitas yang sangat menyebalkan. Apalagi menunggu sebuah kepastian tentang masa depan. Aku sudah melakukan bagianku dengan sebaik mungkin, saat ini rasanya aku harus mulai belajar apa yang namanya berserah. Terdengar klise memang, tapi tak ada lagi yang bisa aku perbuat saat ini selai menunggu. Aku sempat mensharekan keputusanku ini ke beberapa teman2ku dan merekapun mengakui bahwa ini memang merupakan keputusan yang sangat beresiko, tapi terlepas dari itu mereka cukup memberikan dorongan moril yang memang sangat aku butuhkan. Thanks a lot guys :) Salah satu upaya yang bisa aku lakukan untuk mengurangi ketegangan ini adalah dengan membaca. Saat ini aku baru saja menyelesaikan sebuah tulisan yang sangat menarik karya Voltaire. Menarik memang walaupun untuk saat ini aku tidak bisa benar2 menikmatinya :( Aku hanya bisa berharap semoga aku dapat melewati masa2 sulit semacam ini dengan baik. Ayooo Boedy, tetap semangat yach!!!!!!!

Fix it Buddy!!!

|

Sabtu, 13 Agustus 2005

Apa yang harus dilakukan ketika aku menyadari bahwa aku telah melakukan suatu kesalahan?
Ah bodoh sekali, kenapa pertanyaan semacam ini mesti ditanyakan?
Sudah jelas jawabannya adalah minta maaf dan mencoba memperbaikinya.
Idealnya memang seperti itu, tapi sayang sering kali hidup tak berjalan ideal.
Aku punya emosi yang perlu aku taklukkan.
Emosilah yang seringkali menjadi pangkal dalam setiap kekeliruanku.
Kekeliruan yang mengantaranku pada penyesalan demi penyesalan.
Aku yang selama ini menganggap diriku sebagai seorang pemikir,
tapi nyatanya malah emosikulah yang kadang mendominasi diriku.
Aku yang seringkali memberi masukkan pada teman2ku untuk selalu kritis dan rasio oriented dalam
menghadapi dan memecahkan persoalan, saat ini malah aku sendiri yang terjebak di dalamnya.
Ternyata aku belum menjadi manusia yang seringkali aku jadikan model panutan bagi teman2ku.
Ternyata aku masih jauh dari itu.
Memang benar kata orang, bicara memang jauh lebih mudah dari pada menjalaninya.
Hhhmmm... tapi aku tahu bahwa hal ini tidak bisa dibiarkan berlalu begitu saja.
Aku harus mencoba menjadikannya tidak hanya mudah untuk diomongkan saja, tetapi juga mudah untuk dilakukan.
Aku harus mulai melatih diriku lagi.
Melatih mengendalikan emosiku.
Selamat berjuang Boedy :)

Horreeee.....

|

Sabtu, 13 Agustus 2005

Wahhh senangnya bisa bertemu sahabatku Listya.
Setelah sekian lama hanya bertemu di dunia maya, akhirnya bisa bertemu juga di duna fana :p
Benar2 suatu pengalaman yang aneh.
Moment yang unik :)
Tapi entah kenapa aku merasa yang kutemui adalah seorang Listya yang lain.
Mungkin aku yang salah dalam membangun image -gambaran- seorang Listya.
Maklum saja, proses rekonstruksi yang dilakukan selama ini hanya melalui media text :p
Tapi entah kenapa, aku tetap merasa asing.
Aku merasa belum bertemu dengan Listya yang aku kenal selama ini.
Aku jadi bertanya-tanya, manakah dirimu yang sebenarnya.
Yang aku lihat dalam pertemuan kemarin ataukah yang biasa aku temui dalam tulisan2mu?
Mengapa begitu berbeda?
Bolehkan aku bertemu denganmu Lis?

Berpikir dan Berperasaan

|

Rene Descartes pernah mengatakan bahwa kita berpikir maka kita ada.
Ungkapan semacam ini telah menjadi jiwa dari abad pencerahan.
Manusia sebagai makhluk pemikir semestinya menunjukkan eksistensi dirinya dengan berpikir.
Boedy adalah makhluk pemikir.
Setiap hari, setiap menit, setiap detik, setiap mili detik aku selalu berpikir.
Awalnya
kupikir berpikir sebagai sebuah anugerah.
Tapi akhir2 ini aku merasa ini sebagai kutuk.
Yup, kutuk yang harus aku tanggung.
Otakku terus bekerja.
Tiap hari, tiap jam, tiap menit, tiap detik, bahkan tiap mili detik.
Bahkan sewaktu tidur pun otak ini tidak pernah berhenti berputar.
Aku takut...bila nanti otakku akan berhenti bekerja.
Apa jadinya dengan semua pemikiran dan teori yang aku miliki selama ini?
Apakah akan menjadi sirna begitu saja?

ps:
Tulisan ini aku ketik di Kompienya Lis
waktu aku ketemuan ama dia di kost nya
Thanks ya Lis buat judulnya :)

Tidakkkk….

|

Minggu, 31 Juli 2005

Setelah melewati perjalanan yang cukup jauh dari Jogja ke Bandung, aku tetap saja belum berkesempatan untuk bertemu dengan sahabatku Listya.

Tiidddaakkk…….

Benar-benar belum berjodoh untuk bertemu.

Beberapa waktu sebelumnya, Listya sempat berencana untuk menemuiku juga ketika dia sedang dalam perjalanan ke Bali. Kebetulan rute perjalanannya melewati Jogja.

Tapi waktu itu pun kami belum bisa bertemu.

Suatu bentuk persahabatan yang unik.

Kami hanya bertemu di dunia maya.

Komunikasi yang kami jalin berbasis teks.

Minggu depan aku berencana untuk kembali ke Bandung.

Semoga saja kita bisa bertemu.

AMSTERDAM by Coldplay

|

Sabtu, 23 July 2005

Senang rasanya bila dalam hidup ini kita bisa menemukan sorang teman atau bahkan seorang sahabat yang bisa kita jadikan rekan untuk berdiskusi dan bertukar pikiran, apalagi bila bisa bertukar karya.

Listya Nurina adalah seorang sahabat bagiku. Seorang sahabat yang unik, seorang sahabat yang bahkan sampai detik ini belum pernah berkesempatan untuk bersua dan bertatap muka langsung. Seorang sahabat dalam dunia maya.

Di mataku, Listya adalah seorang filsuf sekaligus seniman.

Seorang filsuf yang memiliki kebebasan dan kekritisan dalam berpikir.

Dan juga seorang seniman yang selalu ingin merekam dan memberi makna pada setiap jengkal kehidupannya.

Berikut ini adalah salah satu karyanya yang cukup menarik perhatianku.

Benar-benar sebuah goresan tangan yang indah dalam memaknai sebuah waktu.

Sebuah refleksi tentang ruas-ruas kehidupan.

Sebuah tulisan yang cukup kental diwarnai oleh nuansa dari sebuah karya berjudul ”Einstein’s Dreams”. Buah karya seorang Alan Lightman.

Lis, aku benar-benar menyukai gaya tulisanmu.

AMSTERDAM by Coldplay

Rehat...rest...istirahat...idle...
kayanya lebih cocok kalo sekarang g lagi di dalam status idle.
Pikiran g melayang jauh terlalu ke depan.
Apa yang tidak pernah terbayang sebelumnya, tiba-tiba out of control fly inside my mind.
Yang g rasakan adalah ketakutan untuk berjalan bersama relevansi waktu, yang selalu disinggung secara detail dalam buku "mimpi-mimpi einstein"
Andai waktu tidak bergulir...andai waktu seperti mimpi yang tak berujung, andai waktu seperti seorang Sukma Ayu yang sedang koma...dan akhirnya hancur bersama kedalaman tak berujung...
Kemudian mimpi sempurna itu tidak usah dibangunkan..

Idle..bukan berarti g mau terus terombang-ambing ke dalam ketidakmenauan.
Ada banyak hal yang dapat diperjuangkan ketika being idle.
Mungkin untuk mendewasakan seseorang selama melewati waktu tersebut.
Seseorang yang harus saling menahan hasrat dan perasaan, menahan untuk menepis kemunafikan di kedalaman sanubari hati.
Perasaan tetap merahasiakan suatu rahasia...

Idle adalah waktu untuk beristirahat sejenak.
REhat adalah waktu yang tepat sambil menikmati secangkir kopi.
Tetapi bukan berarti berhenti untuk membuka hati lebih dalam , bukan berarti mencari pelarian lain, bukan berarti merapuhkan keadaan yang telah ada.

Idle...diam sesaat..
Kemudian berpikir untuk menjadi dewasa...
Untuk tidak pernah menjadi egois...
Untuk menjadi seseorang yang berarti bagi seseorang yang lain.
Untuk menemukan seseorang yang lain berarti bagi seseorang.

Hari...
adalah waktu untuk merasakan IDLE
Menit dan detik menjadi hari untuk memberi arti kepada seseorang.

Anak-Anak

|

Sabtu, 23 July 2005

Di siang hari yang cerah ini terdengar suara gelak tawa kanak-kanak yang
sedang bermain di sekitar rumah kontrakanku.
Anak-anak yang penuh dengan keceriaan dan kepolosan.
Anak-anak yang biasanya hanya bermain di luar halaman rumah, kali ini mulai memberanikan diri
untuk melewati pagar dan memasuki halaman.
Rupa-rupanya mereka ingin mengambil biji-bijian dari pohon yang ada di halaman rumah.
Entah apa nama pohonnya, yang kutahu pohon itu menghasilkan biji-bijian berwarna merah.
Warna yang memang cukup menarik perhatian bagi seorang anak.
Mereka mulai mengumpulkan biji-bijian itu dengan penuh keceriann.
Sesekali juga diiringi jeritan-jeritan dan gelak tawa sebagai wujud ekspresi kegembiraan mereka.
Benar-benar suatu bentuk kehidupan yang indah.
Indah, ceria, dan polos walau terkesan agak brutal bila tidak diberi suatu pengarahan dan pengajaran.
Wah... sekarang mulai terdengar suara tangis dari seorang anak.
Suara tangis yang cukup keras.
Sebuah tangis yang menghasilkan butir air mata sebagai tanda ketidaknyamanan.
Seringkali juga digunakan sebagai tanda ketidaksetujuan.
Sebuah bentuk ekspresi yang sangat sederhana.
Selang beberapa detik saja, tangis itu sudah berubah kembali jadi tawa dan canda.
Wah... benar-benar luar biasa sekali.
Benar-benar pola perilaku berekpresi yang indah.
Rasa-rasanya, dulu aku pun pernah mengalami fase semacam ini.
Tapi ke manakah sekarang tangis dan tawaku?
Saat ini aku memang masih memiliki tawa, tapi bukan tawa seperti mereka.
Saat ini pun aku masih memiliki tangis, tapi bukan tangis seperti mereka.
Tangis dan tawa ekspresif dan lepas yang memberi warna pada hari-hariku.

Blessing in Disguise

|

Rabu, 6 Juli 2005

Babak satu:

Lagi-lagi aku harus mengalami saat-saat menyebalkan seperti ini. Aku sedang menunggu jemputan travel. Kali ini tidak tanggung-tanggung telatnya. Bayangkan saja, aku sudah menunggu sejak pukul 3:15 pm tapi taravel yang dijadwalkan akan menjemputku pada pukul 3:30 pm, sampai detik ini belum juga muncul. Saat ini jam sudah menunjukkan pukul 5:45 pm. Jumlah waktu yang setara dengan perjalanan yang ingin aku tempuh ke Sala Tiga, dua setengah jam.

Sebenarnya siang tadi sempat terpikirkan dalam benakku untuk menulis tetang suatu topik, tapi sialnya saat ini ketika aku ingin menuliskannya –sebagai upaya untuk membunuh kebosananku– tiba-tiba saja topik itu hilang serasa menguap, hilang entah ke mana. Aku tak dapat lagi mengingatnya. Mungkin kapasitas memory otakku perlu ditambah. Rasa-rasanya jumlah data yang berseliweran di otakku makin semerawut dan tumpang tindih.

Ah sial, di saat-saat seperti ini rupanya penaku pun tidak bisa diajak kompromi. Tulisan tanganku mulai terlihat putus-putus seperti sandi morse saja. Sebentar, biar aku hentak-hentakkan dulu penaku siapa tahu bisa menurunkan tinta yang ada di dalamnya dan mendorong keluar sisa-sisa tinta kering penyebab kemacetan.

Akhirnya setelah dilakukan beberapa kali hentakkan keras pada penaku, aku bisa melanjutkan kembali tulisanku.

Yang namanya sebuah tulisan tentunya membutuhkan sebuah topik atau tema, lantas topik apa yang sebaiknya aku tulis?

Di hadapanku saat ini terbentang sebuah pagar terbuat dari besi dan dicat dengan warna coklat muda. Lantas apa lagi yang bisa aku tulis tentang pagar ini?

Rasanya untuk saat ini otakku pun sedang tidak bisa diajak kompromi untuk memproduksi ide. Ya, sudahlah mungkin sebaiknya aku lanjutkan saja dengan membaca buku.

Akhirnya, setelah menunggu selama tiga jam, aku dijemput juga.

Babak dua:

Benar-benar hari yang menguji kesabaranku. Baru 30 menit perjalan ke Sala Tiga, tiba-tiba saja sopir travel memutuskan untuk menunda perjalanan. Ini disebabkan wipper mobil yang macet. Maklumlah kondisi saat ini sedang hujan lebat dan memang cukup beresiko untuk melanjutkan perjalanan menggunakan mobil dengan wipper yang ngadat. Travel pun terpaksa singgah di bengkel untu beberapa waktu.

Lagi-lagi aku harus kembali menunggu. Sebuah aktifitas –kalau memang layak untuk disebut sebagai aktifitas – yang sangat membosankan.

Ya ampun, ternyata proses reparasi wiper kali ini memakan waktu yang menurutku sudah di luar batas kewajaran. Bayangakn saja, hanya untuk mereparasi wiper membutuhkan waktu sampai tiga jam. Kalau begini sich bukan ”menguji” kesabaranku, tapi lebih tepat bila diartikan sebagai ”menantang” kesabaranku.

Ya apa mau dikata, toh aku sendiri tidak bisa membantu memperbaiki wipernya.

Akhirnya baru pada pukul 9:00 pm sopir memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.

Aku lalu mengirim SMS ke temanku, memberitahukan bahwa aku akan tiba di Sala Tiga jauh dari jadwal yang semula direncanakan.

Babak tiga:

Akhirnya aku pun sampai juga di Sala Tiga. Waktu menunjukkan tepat pukul 11:00 pm. Waktu yang cukup larut. Aku pun mencoba untuk mengirimkan SMS ke temanku untuk memberitahukan bahwa aku sudah sampai di Sala Tiga dan meminta dia menjemputku. Maklum saja ini adalah kali pertama aku ke Sala Tiga. Setelah menunggu beberapa waktu, jawaban atas SMS ku belum juga sampai. Aku pun mulai khawatir, jangan-jangan temanku sudah tertidur karena kemalaman menunggu kedatanganku. Tidakk....... aku benar-benar terdampar di kota yang asing.

Setelah mengantarkan beberapa penumpang yang lain, sopir travel pun akhirnya menanyakan padaku lokasi di mana aku ingin diturunkan.

Aku pun mulai gelisah. Harus aku jawab apa? Aku mau turun di mana? Tempat dan daerah apa yang aku tahu ada di Sala Tiga?

Satu-satunya nama tempat yang aku tahu dari Sala Tiga hanyalah Universitas Satya Wacana. Tanpa pikir panjang lagi, aku pun langsung menjawab ”Pak, Satya Wacana khan memiliki wisma. Kalu begitu tolong saya diturunkan di wisma Satya Wacana saja” . He3... padahal aku sendiri tidak yakin kalau Satya Wacana memiliki wisma.

Wah3.. ternyata jawabanku yang asal ceplos itu diresponi dengan serius oleh si sopir. Dan memang ternyata Satya Wacana benar-benar memiliki wisma.

Aku pun diantar sampai memasuki sebuah kompleks yang dipenuhi dengan pepohonan dan bangunan-bangunan tua yang besar dan kokoh. Tapi memang aku tidak bisa melihat dengan jelas, maklum saja kondisi saat itu cukup gelap san hujan pun cukup lebat.

Setelah diturunkan di kompleks itu, mobil pun meninggalkanku sendiri.

Lantas di mana wismanya? Di mana letak pintu utama yang bisa aku ketok?

Di mana resepsionisnya? Di mana orang-orang?

Ah tidakk..... Kompleks ini terasa sangat luas dalam suasana malam yang kelam ini.

Tidak ada seorang pun yang bisa aku temui di kompleks ini. Bahkan aku pun tidak bisa menemukan seorang satpam di sini.

Setelah mencoba berkeliling-keliling, akhirnya aku pun mengetahui bahwa kompleks banugnan ini merupakan kompleks Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Asing (STIBA) Satya Wacana. Lantas di mana wismanya?

SMS yang aku kirimkan pada temanku pun belum juga terjawab. Kini aku menjadi semakin yakin kalau dia memang sudah tertidur.

Setelah berkeliling, aku pun mulai menyadari bahwa aku harus menerima kenyataan untuk berehat dan melewatkan malam di kompleks ini, di kota yang asing ini. Setelah mencari tempat yang kiranya cukup nyaman, aku pun memutuskan utuk beristirahat dan tidur di depan sebuah perpustakaan. Bayangkan, aku harus tidur di alam terbuka. Ruangan yang aku temui semuanya terkunci rapat. Tidak ada satu pun yang bisa aku masuki.

Dinginnya malam yang diperkuat dengan hujan yang lebat semakin terasa menusuk ke dalam tulang-tulangku.

Kalau aku harus melewatkan malam dengan keadaan seperti ini bisa-bisa aku terserang demam. Aku harus mencari tempat bermalam yang lebih hangat.

Aku pun mulai mengumpulkan keberanianku untuk menjelajah lebih jauh ke dalam kompleks ini. Setelah beberapa waktu aku mencari, akhirnya aku menemukan sebuah ruangan yang tak terkunci. Ruangnya cukup luas. Setelah lampu ruangan aku nyalakan, aku akhirnya dapat mengenali ruang itu sebagai ruang administrasi. Ya sebuah ruang yang kemungkinan digunakan oleh mahasiswa di sini untuk mengurus keperluan administrasi mereka. Ruangnya lumayan besar. Ada dua buah sofa di sana. Aku pun memilih sofa yang paling hangat dan paling lembut untuk aku jadikan tempat tidur. Wah ternyata di sini juga ada KOMPAS edisi hari ini. Lumayan juga untuk dijadikan bacaan menemani rehatku di ruang dan kota yang asing ini.

Hhhmm... mungkin inilah yang dinamakan sebagai ”Blessing in Disguise”. Sebuah berkat yang tersembunyi. Sebuah berkat yang hanya bisa kita terima dan rasakan bila kita bersedia untuk rehat dan diam beberapa saat untuk mengucap syukur atas apa yang baru saja kita alami. Benar-benar suatu bentuk kehidupan yang indah ya :)

Refleksi Seorang Nelayan

|

Ada seorang pengusaha muda dan kaya bernama Pak Anton.
Suatu hari beliau bertemu dengan seorang nelayan
yang sedang santainya memancing ikan di tepi sungai.
Seperti biasanya, insting bisnis Pak Anton mulai
bekerja.
Dia pun menegur si nelayan itu.

"Waduh pak, kok mencari ikannya menggunakan
pancing kecil? Khan lama dapetnya."

"Lantas sebaiknya bagaimana?" Tanya si nelayan.

"Sebaiknya bapak menggunakan jaring besar biar
bisa mendapatkan banyak ikan."

"Lantas ikan yang banyak itu untuk apa?" Tanya si
nelayan lagi.

"Wah bapak ini lugu banget sich, ya jelas saja
untuk membeli kapal agar bisa mendapat ikan lebih
banyak lagi." Jawab Pak Anton agak kesal.

"Terus itu semua untuk apa?" Tanya si nelayan bingung.

"Ya jelas saja dengan menggunakan kapal maka ikan
yang didapat bisa lebih banyak. Otomatis uang yang
didapat dari penjualan ikan juga meningkat.Uangnya
bisa bapak pakai untuk beli kapal yang lebih
gede." Jawab Pak Anton setengah marah.

"Terus untuk apa kapal gede itu?" Tanya si nelayan
semakin kebingungan.

"Ya jelas saja untuk mendapat lebih banyak uang."
Jawab Pak Anton membentak.

"Lantas uang yang banyak itu untuk apa?" Tanya si
nelayan semakin bingung.

"Ya jelas saja untuk bisa menikmati hidup dengan
lebih santai, Bapak ini lugu atau bego sich?"
Bentak Pak Anton

"Memangnya saat ini saya sedang tidak menikmati
hidup? Bukankah saat ini juga saya sedang
bersantai?" Tanya si nelayan balik.

nb:
Tulisan ini bukanlah karya orisinil seorang Boedy, melainkan hasil tulis ulang dari sebuah karya yang sempat saya baca.
Hanya saja saya lupa sumber orisinilnya.

Kekeliruanku Tentang Waria

|

Minggu, 8 Mei 2005

Dua hari yang lalu, tepatnya pada tanggal 6 Mei 2005 digelar suatu acara yang sangat menarik di toko buku Gramedia Jogja. Acaranya berupa launching dan bedah buku yang menghadirkan tiga orang penulis yang ketiganya mengangkat topik tentang waria. Yang membuat acara ini lebih menarik adalah, ternyata dua dari tiga penulis yang dihadirkan adalah seorang waria.
Wah menarik sekali….
Mereka sangat terbuka dan yang membuat aku cukup terkejut adalah ternyata mereka juga sangat terpelajar.
Pemaparan yang mereka sampaikan sangat runtut dan sistematis seperti layaknya orang yang berpendidikan tinggi.
Waria pertama bernama Merlyn Sopjan. Beliau adalah seorang sarjana Teknik Sipil lulusan Universitas Teknologi Nasional Malang. Beliau juga menjabat sebagai ketua Ikatan Waria Malang (IWAMI) dan dianugerahi gelar Doktor HC dari Northern California Global University karena aktivitas sosialnya dalam bidang HIV/ AIDS. Luar biasa khan???
Waria kedua bernama Shuniyya. Beliau adalah seorang sarjana dengan predikat lulusan terbaik dari jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UGM tahun 2004. Beliau lulus Cum Laude dengan IPK 3,56 dan hanya menempuh masa kuliah 3 tahun 2 bulan.
Benar-benar patut diacungi jempol.
Dalam kesempatan kali ini, mereka mencoba untuk membagi pengalaman dan perasaan yang mereka alami sebagai seorang waria. Dari pemaparan mereka aku menangkap suatu kesimpulan bahwa sesungguhnya seorang waria adalah seorang wanita yang terjebak dalam tubuh pria.
Sejak dilahirkan, mereka tidak pernah merasa diri mereka sebagai seorang pria walaupun secara fisik mereka memiliki bentuk tubuh layaknya seorang pria.
Benar-benar suatu beban yang luar biasa beratnya yang harus mereka tangung dalam kehidupan mereka. Aku sendiri sempat membayangkan bila seandainya aku dilahirkan dengan mindset seorang pria tapi dengan tubuh seorang wanita. Mengerikan sekali..... Dan rasa-rasanya aku tidak akan mampu menaggungnya.
Pada waktu masih kanak-kanak dan remaja, mereka memang dipaksa oleh orang tua mereka untuk mengenakan busana dan berkelakuan seperti layaknya seorang pria.
Alasannya cukup klise, demi menjaga nama baik keluarga.
Benar-benar suatu penderitaan batin yang luar biasa berat.
Mereka juga dicap oleh masyarakat sebagai kaum yang meresahkan masyarakat. Mereka selalu saja diidentikkan dengan kejahatan, alat pemuas sex, pengamen jalanan. Peluang kerja yang agak lumayan yang bisa mereka masuki mungkin sebagai penata rambut dan busana atau sebagai pelawak yang kehadirannya hanya untuk diolok-olok oleh para penontonnya.
Tapi perlu diingat, tidak semua waria memiliki bakat di bidang tata rambut dan tata busana, apalagi bakat menjadi seorang pelawak.
Waria memang dikondisikan untuk jadi seperti itu. Itu semu karena sikap penolakan dari masyarakat. Bayangkan saja, bahkan untuk menjadi seorang ”babu” yang tidak menuntut banyak keahlian saja rasa-rasanya masih sulit. Belum banyak keluarga yang mau menerima waria sebagai pembantu rumah tangga di rumah mereka.
Mereka terpaksa turun ke jalan menjadi pekerja sex hanya semata karena tuntutan kebutuhan untuk bisa tetap bertahan hidup. Itu bukan karena hasrat seksual dan keingginan mereka untuk having fun. Kalau hanya mengejar nafsu, toh mereka pun tidak akan menarik bayaran. Nyatanya para waria yang turun ke jalan sebagai pekerja sex hampir seluruhnya menarik bayaran.
Kalau seandainya mereka bisa memilih, toh mereka pun tak ada yang memilih untuk dilahirkan sebagai waria. Mereka pasti akan memilih untuk dilahirkan sebagai seorang wanita yang sempurnya.
Jujur saja, setelah mengikti acara ini aku jadi merasa malu dan bersalah karena persepsiku yang keliru selama ini dalam memandang waria.
Mereka juga manusia, sama seperti kita.
Mereka juga rindu untuk selalu dapat mencintai dan dicintai.
Kebetulan semalam aku baru saja menyelesaikan membaca buku yang ditulis oleh Merlyn, makanya sedikit banyak aku jadi bisa merasakan apa yang dirasakan oleh seorang waria.
Sudah saatnya memang bagi masyarakat kita untuk bisa menempatkan waria sebagaimana mestinya.
Bukankah nilai manusia dilihat dari kemampuan dan karya yang dia hasilkan dan bukannya dari kesempurnaan alat kelamin yang dimilikinya?
Manusia berpikir dengan otak dan bukan dengan alat kelamin.
Manusia juga merasa dengan hati dan bukan dengan alat kelaminnya.
Bukankah waria juga memiliki otak –pikiran – dan hati layaknya manusia ”normal” lainnya?
Lantas apa lagi yang membuat kita membatasi ruang gerak mereka?
Apakah masalah kesempurnaan alat kelamin sangat esensial bagi seseorang dalam berkarya dalam hidupnya?

Ternyata Keliru itu Indah lhooooo

|

Sabtu, 30 April 2005

Hari ini aku baru saja menyelesaikan membaca “Kaleidoskopi Kelirumologi” jilid 2 Karya Jaya Suprana. Dan berniat untuk melanjutkan ke jilid-jilid berikutnya.

Awalnya sich hanya iseng-iseng saja sebagai bacaan selingan setelah kepalaku cukup pusing gara-gara membaca Gunung Jiwa.

Tapi lama-kelamaan kok malah keasikan :p

Setelah membaca buku ini, tiba-tiba saja aku jadi kagum dan mulai bisa menerima bahkan menertawakan kekeliruan yang acapkali aku lakukan.

Ternyata kekeliruan yang terjadi dalam hidup ini bisa memberikan warna bagi kehidupan itu sendiri. Hidup jadi lebih berwarna dan penuh canda karena adanya kekeliruan ini.

Aku jadi semakin percaya bahwa hidup ini memang indah selama kita bisa memandangnya dari sisi yang keliru :p

Ha3….

Sebuah Perenungan di Kereta

|

Selasa, 26 April 2005

Hari yang melelahkan.

Saat ini aku sedang berada di dalam kereta yang akan membawaku kembali ke Yogyakarta tercinta. Aku memang memutuskan untuk langsung pulang setelah memperolah hasil wawancaraku di AlfaMart. Wah, akhirnya aku ditolak. Aku sendiri memang tidak merasa cocok dengan suasana kantor dan lingkungan kerjanya.

Intermezo sebentar ya, saat ini di depanku duduk seorang pemuda yang sangat angkuh. Dilihat dari jaket yang dikenakannya, aku mengetahui bahwa dia adalah seorang polisi khusus Kereta Api. Saat ini memang sulit untuk membedakan antara pelanggar hukum dan penegak hukum. Keduanya sama-sama memasang tampang sangar dan keduanya gila uang.

Ok, aku sudahi dulu intermezonya agar tidak berkepanjangan.

Rasa-rasanya lingkungan akademiklah yang paling cocok denganku. Bagiku hidup akan sangat membosankan bila setiap hari diisi dengan aktifitas-aktifitas monoton seperti berangkat ke kantor di pagi hari, bekerja di dalam gedung selama 8 jam dan bertemu dengan orang-orang yang sama tiap harinya. Sore hari, sepulang dari kantor langsung mandi dan dilanjutkan mencari makan malam. Di malam hari acara diisi dengan menikmati tontonan yang disuguhkan oleh stasiun-stasiun televisi sampai akhirnya kedua mata ini menjadi cukup berat dan tertidur. Demikian seterusnya rutinitas ini berlangsung satiap harinya.

Tentang kegagalanku di AlfaMart, aku sendiri cukup bingung. Di satu sisi aku merasa kecewa karena setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh dari Yogyakarta ke Jakarta tapi hasil akhir yang diperoleh adalah kegagalan. Tapi sisi lain dari diri ku malah merasa senang. Aku merasa seolah-olah diteguhkan untuk menjadi seorang dosen.

Aku memang tidak bersemangat ketika diwawancarai walaupun psikotest dan test programming dapat aku lalui dengan mulus. Puncaknya ketika aku ditanya tentang salary yang aku inginkan, langsung saja aku sebut jumlah sembarang. Wah ternyata jumlah yang aku ajukan terlalu tinggi bagi seorang fresh graduate di perusahaan tersebut. Ah sudahlah, walaupun dalam proses tawar-menawar akhirnya dicapai suatu angka tertentu, tapi kemungkinan aku sudah dianggap money oriented di mata mereka.

Sebenarnya bagiku salary adalah urusan kesekian, yang terpenting bagiku adalah aku dapat menikmati pekerjaanku. Dan mengajar bagiku adalah suatu kepuasan. Dengan mengajar, aku selalu dituntut untuk belajar dengan cepat dan dituntut pula untuk mampu menyampaikan apa yang telah aku pelajari dalam bentuk yang sesederhana mungkin agar bisa diterima dengan baik dan mudah oleh para peserta didik. Benar-benar suatu pekerjaan yang menantang.

Dengan mengajar, aku pun secara otomatis akan dipertemukan dengan banyak orang dengan karakter dan kepribadian yang beragam pula. Benar-benar suatu kesempatan yang luar biasa untuk dapat melihat warna-warni kehidupan.

Menunggu itu Membosankan

|

Senin, 25 April 2005

Benar-benar membosankan.

Setelah mengikuti psikotes, mau tak mau aku harus menunggu di kantor sampai temanku mengakhiri jam kerjanya. Suasana kantor yang dulunya aku persepsikan sebagai sebuah gadung yang dipenuhi oleh para profesional dan eksekutif tiba-tiba saja berubah menjadi bangunan yang yang penuh dengan rutinitas yang membosankan. Tidak ada keceriaan di sini. Yang ada hanyalah orang-orang yang mau tak mau harus bekerja karena bila tidak maka mereka tidak akan beroleh makan.

Sambil menunggu , dari tadi aku mengamati sebuah pintu masuk. Sebuah pintu otomatis bersensor. Orang-orang yang ingin melewatinya tak perlu repot-repot membukanya. Pintu tersebut secara otomatis akan membuka dengan sendirinya bila ada orang yang akan melewatinya.Benar-benar suatu karya yang kreatif walau harus sedikit menanggalkan sisi sentuhan manusianya.

Aku sempat membayangkan, andai saja pintu masuk itu bukan sebuah pintu otomatis dan di kedua sisi pintu tersebut ada dua orang dengan senyuman ramah membukakan pintu bagi orang-orang yang ingin melewatinya. Alangkah indahnya suasana kantor ini, di mana orang-orang yang masuk dan keluar selalu disambut dengan senyuman penuh keceriaan dan kehangatan. Benar-benar suatu bentuk sentuhan manusiawi yang menghidupkan.

Ah sudah lah, mungkin hal ini hanyalah khayalan ku saja. Toh andaikan ide ini disampaikan pada pimpinan dan dewan direksi pastilah mereka akan serta merta menolaknya dengan dalih efisiensi tenaga kerja.

Tapi ngomong-ngomong tentang efisiensi, mulai timbul pertanyaan dalam benakku. Apakah akan efisien bila karyawan bekerja tanpa adanya keceriaan dalam dirinya? Apakah memang benar-benar tidak efisien bila manambahkan beberapa personil yang memfokuskan diri pada tanggung jawab yang menjamin keceriaan seluruh staff dalam melakukan aktifitas pekerjaan mereka?

Ah sudahlah. Lagi pula ini khan hanyalah sebuah ide yang keluar dari benak seorang gila yang kian hari kian menikmati kegilaannya.

Waktu pun terus berjalan. Setidaknya aku masih perlu menunggu sekitar 1 jam 15 menit lagi.

Untunglah saat ini aku ditemani oleh sebuah karya sastra apik berjudul ”Gunung Jiwa”. Sebuah karya yang digarap selama 7 tahun dan yang pada akhirnya mampu mengantarkan penulisnya untuk meraih nobel sastra pada tahun 2000.

Banyak orang mengakui bahwa membaca adalah cara yang cerdas untuk membunuh waktu. Tapi kali ini aku cenderung berpendapat bahwa menulis adalah cara yang efektif dan kreatif untuk memanfaatkan waktu yang ada. Bagiku menulis adalah sebuah aktifitas yang sangat menyenangkan. Suatu bentuk pengekspresian dan aktualisasi diri. ”Writing and Being”

My Graduation Day

|

Sabtu, 23 April 2004

Hari yang panas.

Akhirnya hari yang ditungu-tunggu pun datang juga.

Hari ini merupakan salah satu hari yang sangat bersejarah dalam kehidupan seorang Boedy. Hari ini untuk pertama kalinya aku mengenakan kelengkapan wisuda layaknya seorang sarjana. Ya, hari ini adalah hari di mana aku diwisuda.

Hari di mana seorang mahasiswa yang telah menyelesaikan seluruh materi perkuliahannya untuk dikukuhkan menjadi seorang sarjana stata1.

Nama ku kini menjadi bertambah panjang , Setia Budi, S.Kom.

Keren juga sich.

Aku cukup bersyukur untuk apa yang bisa aku alami saat ini. Di tengah kondisi perekonomian keluargaku yang cukup ”mepet”, aku bisa menyelesaikan studiku di jenjang perguruan tinggi.

Kedua orang tua ku dan adikku pun datang untuk turut berbagi kebahagian. Ya, wisuda memang merupakan suatu moment yang paling ditunggu-tunggu oleh setiap orang tua yang menyekolahkan anaknya di perguruan tinggi. Moment di mana orang tua merasa berhasil dalam menunaikan tanggung jawabnya dalam membekali anak mereka untuk bisa terjun dan survive di ”dunia nyata”.

Sungguh merupakan sebuah anugerah yang luar biasa yang boleh aku terima.

Ditambah lagi ketika dibacakan bahwa IPK ku menempati pringkat ketiga untuk untuk wisuda periode ini. Wah benar-benar di luar dugaan.

Aku memang bukan tipikal orang yang berorientasi pada nilai, tapi setidaknya peringkat tersebut bisa menambah kenbahagiaan bagi kedua orang tuaku. Orang tua yang sudah dengan susah payah menyekolahkan aku..

Pendidikan Kerukuanan Antar Umat Beragama

|

Selasa, 5 April 2005

Agama sekarang ini bisa menjadi sesuatu yang amat berbahaya jika tidak dikritisi dengan seksama. Agama yang pada awalnya diperuntukkan bagi pendewasaan diri umatnya –termasuk di dalamnya adalah pengendalian diri –malah menjadi salah satu pemicu kericuhan dalam masyarakat yang seringkali berakhir dengan tindakan-tindakan yang sifatnya anarkis.

Menurut pandangan penulis, ini semua tidak lain disebabkan oleh rasa bangga yang berlebihan yang ada dalam diri umat dari masing-masing agama. Para pemeluk agama tersebut merasa bahwa agamanyalah yang paling benar dan agama-agama yang lain adalah salah –bahkan secara ekstrim bisa dikategorikan sebagai ajaran sesat.

Sikap hidup beragama seperti ini tentunya sangatlah tidak kontekstual dengan kondisi masyarakat kita yang kian hari kian heterogen dan plural.

Bahkan kalau dilihat dengan seksama, ternyata dalam tubuh masing-masing agama sendiri muncul dan berkembang berbagai aliran yang berbeda. Misalkan saja Nahdatul Ulama dan Muhammadiyah dalam agama Islam; atau Calvinis, Injili, dan Karismatik yang terdapat pada agama Kristen.

Menurut penulis, untuk menghadapi situasi demikian sangatlah diperlukan adanya suatu upaya untuk membuka wawasan pada masyarakat, khususnya pada kaum muda –para siswa sekolah –karena merakalah yang nantinya akan menentukan nasib dan arah bangsa kita.

Pemerintah sendiri sudah mencoba mensiasati hal tersebut dengan memasukkan materi kerukanan antar umat beragama dalam kurikulum pendidikan sekolah. Tapi sayangnya sesuatu yang dimasukkan dalam kurikulum resmi pada pelaksanaanya malah terjebak dalam tataran teori yang tidak ada realisasi tindakan yang nyata.

Nah pada kesempatan kali ini penulis mencoba memberikan solusi mengenai bentuk materi pengajaran yang bisa diterapkan di sekolah untuk menunjang kerukunan antar umat beragama.

Alangkah menariknya bila materi tentang kerukunan antar umat beragama dikemas dalam bentuk dialog. Dalam dialog ini masing-masing siswa yang memeluk agama yang berbeda belajar untuk saling berbagi pengalaman tentang kehidupan beragama yang mereka anut. Sebagai contoh siswa yang beragama Hindu bisa berbagi pengalaman mereka ketika merayakan hari raya Galungan atau ketika umat muslim menjalani ibadh sholat tahajut. Dari hasil berbagi pengalaman tersebut tentunya akan muncul sejumlah pertanyaan-pertanyaan terkait dengan ritual maupun makna dari perayaan tersebut yang nantinya akan mengarah pada dialog yang sangat menarik. Kegiatan seperti ini tentunya akan melatih para siswa sekolah sedini mungkin untuk mulai membuka diri terhadap adanya ajaran agama lain di luar dari mereka anut yang nantinya juga akan disusul dengan rasa saling menghargai ajaran-ajaran agama tersebut. Dialog semacam ini akan membuka wawasan siswa bahwa keberadaan agama sendiri adalah sebagai sarana untuk mendewasakan manusia dan meningkatkan kualitas hidup bersama; dan bukannya malah terjebak dalam aksi saling menjelek-jelekan ajaran agama di luar yang mereka anut.

Biarlah kiranya perbedaan yang ada menjadikan hidup kita lebih semarak dan kaya makna. Dan biarlah kiranya damai di bumi benar-benar bisa dirasakan dalam kehidupan antar umat beragama dalam kontenks masyarakat yang majemuk ini.

Hari yang menyebalkan

|

Jumat, 01 April 2005
Hari yang melelahkan dan menyebalkan... Hari ini aku gak jadi ketemu temen2 SMUku :( Padahal kemarin aku sudah sangat menanti-nantikannya. Ini semua gara-gara keteledoranku dalam menyusun jadwal. Terjadi tabrakan jadwal penggunaan ruang untuk praktikum. Benar-benar menyebalkan. Padahal aku juga sudah membayangkan bagaimana seruuuu nya ketika bekumpul dan bernostalgia. Yang saat ini aku rasakan hanyalah rasa lelah yang amat sangat dan rasa kesallllll Padahal momen kedatangan Anne ke Jogja adalah momen yang sangat tepat untuk berkumpul lagi dengan teman-teman lama. Karena walaupun beberapa temanku sama-sama kuliah di Jogja, tapi khan hampir-hampir gak pernah ketemu. Memang temenku yang satu ini punya talent khusus dalam mempertemukan dan mempersatukan kembali teman-teman lama. Aku jadi bertanya-tanya, kira-kira kapan lagi ya aku bisa berkesempatan untuk bernostalgia dengan teman-teman lamaku. Pokoknya malam ini adalah malam yang menyedihkan. Malam penuh penyesalan......

Meet the old friends

|

Kamis, 31 Maret 2005

Hari yang melelahkan.
Seperti biasanya, hari ini aku seharian berkutat di lab komputer.
Dari pagi sampai malam.
Tapi ada pembeda yang cukup mencolok antara hari ini dengan hari-hari biasanya.
Hari ini aku bisa bertemu dengan teman-teman lamaku :)
Teman-teman waktu jaman SMU doeloe.
Wah bahagianya.
Ternyata bernostalgia merupakan salah satu hal yang membahagiakan dalam kehidupan seorang manusia.
Hari ini aku bisa ketemu dengan Anne dan Yani.
Wah rasanya sudah lama sekaliiiii aku tidak bertemu mereka.
Sejak mulai kuliah kami memang benar-benar kehilangan kontak.
Yang paling kebangetan adalah Yani.
Kenapa tidak? Bayangkan saja, kami berdua kuliah di kota yang sama (Jogja) tapi baru kali ini bisa bertemu dan ngobrol-ngobrol panjang lebar.
Gila memang, padahal kami sudah menghabiskan waktu sekitar 4,5 tahun di Jogja.
Sungguh merupakan anugerah bagiku bisa menghadirkan kembali kenangan penuh kecerian di masa SMU.
Banyak sekali perubahan yang terjadi dalam diri kami.
Tapi menurut mereka aku masih tetap gilaaaaa :p
Ha ha ha....
Syukurlah, setidaknya ada sesuatu yang menetap dalam diriku dalam kurun waktu yang cukup lama ini.
Sayang, jadwalku esok hari masih terbilang cukup padat.
Tapi aku akan sebisa mungkin menyempatkan waktu untuk melakukan reuni kecil ini.
Rasanya sudah tidak sabar lagi untuk kembali bercakap-cakap dan tertawa lepas dengan mereka esok hari :)

Manifestoku untuk MICRO Organizer

|

17 November 2004

Micro Organizer adalah team terbaik yang pernah aku miliki. Bersama-sama kita telah melakukan suatu karya yang fenomenal. Yup, karya yang rasanya mustahil dapat dilakukan oleh kebanyakan mahasiswa seusia kita. Kita memang hanya berlima, tapi kemampuan yang kita miliki lebih dari sekadar kemampuan lima orang biasa. Ini adalah team yang luar biasa. Kita seperti lima unsur alam. Ya, lima unsur alam yang dahsyat. Terima kasih untuk kesempatan yang indah ini, kesempatan yang mengijinkan kita untuk mengukirkan suatu guratan tajam dan berkesan dalam hidup kita. Yup, kisah yang bisa kita ceritakan dengan bangga kepada anak cucu kita kelak. Teman, sedih rasanya bila kisah ini harus berakhir. Kisah yang sarat dengan semangat dan keberanian dari suatu team bernama ”Micro Organizer”.
Masih terbayang dalam ingatanku ketika kita dengan penuh semangat mencoba untuk menyusun dan merancang apa yang kita impikan, ketika kita dengan penuh harap menawarkan rancangan kita, ketika kita dengan penuh kesabaran menantikan jawaban ”Ya”, ketika kita dengan penuh ketekunan menjalani dan mengerjakan mimpi kita, dan ketika kita dengan penuh tawa puas menikmati jerih payah kita.
Teman, aku memang yang paling berbeda dari kita berlima. Tulisan ini aku susun untuk mengekspresikan apa yang aku rasakan. Aku memang sulit untuk mengkomunikasikannya secara lisan. Semoga tulisan ini bisa sedikit menggambarkan kesan diriku tentang hasil kerja kita bersama.

The Alamo

|

Minggu, 10 Oktober 2004

Hari ini aku melihat suatu film yang cukup berkesan bagiku. Film itu berjudul “ALAMO”. Bagi Anda yang suka dengan sejarah khususnya sejarah Amerika, tentunya istilah ini tidak terasa asing. Cerita itu menggambarkan perjuangan Amerika dalam mempertahankan TEXAS dari serangan tentara Mexico. Menurut temanku, sampai saat ini perkataan “Remember the Alamo” menjadi salah satu semboyan yang cukup bermakna bagi penduduk Texas. Itu adalah perkataan yang diucapkan oleh seorang Jenderal Amerika dalam melakukan serangan balasan terhadap pasukan Mexico.

Ada sesuatu dalam film ini yang membuat gelisah dalam diriku. Ada suatu rasa sakit dan pedih yang kurasakan di dalam diriku. Mungkin itu hatiku. Tapi aku sendiri tidak tahu pasti. Ketika film itu berakhir, mulai muncul dalam benakku suatu pertayaan yang agaknya muncul dari rasa sakit yang sempat aku alamai tadi. Apakah ideologi, ras, agama, dan atribut-atribut lainnya jauh lebih bermakna dan berarti dari kehidupan sehingga karenanya manusia bersedia mengorbankan segalanya termasuk kehidupan (miliknya dan orang lain) demi mempertahankan atribut-atribut tersebut? Apakah ideologi labih berharga dari sebuah kehidupan? Apakah agama lebih bernilai daripada hidup? Mengapa manusia tidak bisa menerima sesuatu yang berbeda dengan dirinya? Mengapa manusia menyatakan perang demi mempertahankan benderanya untuk diterima oleh manusia lainnya? Apakah bendera lebih bernilai dari kehidupan? Apakah benderanya adalah bendera yang terbaik yang pernah ada atau yang pernah ditemukan atau bahkan yang pernah diciptakan? Apa perlu kita membunuh “orang” hanya karena dia berbeda agama dengan kita? Apa perlu kita merendahkan “orang” hanya karena dia berbeda warna kulit dengan kita? Apa perlu kita berperang karena berbeda ideologi dengan kita?

Bukankah nafas lebih bermakna dari ideologi. Bukankah hidup jauh lebih bernilai dari agama? Dan bukankah perbedaan yang ada menjadikan kita lebih menyadari bahwa saat ini kita memang sedang menjalani hidup yang bernilai?

Elegy For Kosovo

|

Novel yang sangat menarik.
Karya Ismail Kadare ini dengan sangat berani menyingkapi masalah pluralitas kehidupan beragama serta pandangan yang sempit dari kehidupan beragama itu sendiri.
Untuk setting tempat dan waktu, novel ini mengambil bagian dalam kisah perbutan tanah kosovo oleh negara-negara Balkan dan Turki.
Peperangan ini sebenarnya lebih mengarah ke peperangan atas nama agama.
Dalam kisah elegi ini penulis menampilkan sosok tokoh yang sangat menarik.
Tokoh ini berkebangsaan Turki dan memeluk Islam sebagai agama yang diyakininya.
Namun seiring dengan perjalanan waktu, tokoh ini juga menganut kepercayaan Kristen dan Katolik.
Menarik sekali karena sebelum melakukan sesuatu, tokoh ini berdoa dengan menggunakan tanda salib sesuai dengan tradisi Katolik.
Tapi ia juga tetap melaksanakan ibadah solat 5 waktu.

Tiga agama dalam satu tubuh.
Sayangnya tokoh ini harus menjalani hukuman mati.
Ia mati dengan jalan dibakar hidup-hidup.
Hal ini dikarenakan orang-orang di sekitarnya tidak dapat menerima iman seperti yang dianut oleh tokoh ini.
Sewaktu menjalani proses hukuman mati (dibakar hidup-hidup), banyak orang yang menanti-nanti nama Tuhan yang mana yang akan disebut oleh tokoh ini.
Karena biasanya orang yang mendekati ajal akan menyebut nama Tuhannya.
Tapi tokoh ini tidak menyebut nama salah satu Tuhan pun.
Dia hanya berteriak "NON" yang dalam bahasa Latin berarti "tidak"