Kekeliruanku Tentang Waria

|

Minggu, 8 Mei 2005

Dua hari yang lalu, tepatnya pada tanggal 6 Mei 2005 digelar suatu acara yang sangat menarik di toko buku Gramedia Jogja. Acaranya berupa launching dan bedah buku yang menghadirkan tiga orang penulis yang ketiganya mengangkat topik tentang waria. Yang membuat acara ini lebih menarik adalah, ternyata dua dari tiga penulis yang dihadirkan adalah seorang waria.
Wah menarik sekali….
Mereka sangat terbuka dan yang membuat aku cukup terkejut adalah ternyata mereka juga sangat terpelajar.
Pemaparan yang mereka sampaikan sangat runtut dan sistematis seperti layaknya orang yang berpendidikan tinggi.
Waria pertama bernama Merlyn Sopjan. Beliau adalah seorang sarjana Teknik Sipil lulusan Universitas Teknologi Nasional Malang. Beliau juga menjabat sebagai ketua Ikatan Waria Malang (IWAMI) dan dianugerahi gelar Doktor HC dari Northern California Global University karena aktivitas sosialnya dalam bidang HIV/ AIDS. Luar biasa khan???
Waria kedua bernama Shuniyya. Beliau adalah seorang sarjana dengan predikat lulusan terbaik dari jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UGM tahun 2004. Beliau lulus Cum Laude dengan IPK 3,56 dan hanya menempuh masa kuliah 3 tahun 2 bulan.
Benar-benar patut diacungi jempol.
Dalam kesempatan kali ini, mereka mencoba untuk membagi pengalaman dan perasaan yang mereka alami sebagai seorang waria. Dari pemaparan mereka aku menangkap suatu kesimpulan bahwa sesungguhnya seorang waria adalah seorang wanita yang terjebak dalam tubuh pria.
Sejak dilahirkan, mereka tidak pernah merasa diri mereka sebagai seorang pria walaupun secara fisik mereka memiliki bentuk tubuh layaknya seorang pria.
Benar-benar suatu beban yang luar biasa beratnya yang harus mereka tangung dalam kehidupan mereka. Aku sendiri sempat membayangkan bila seandainya aku dilahirkan dengan mindset seorang pria tapi dengan tubuh seorang wanita. Mengerikan sekali..... Dan rasa-rasanya aku tidak akan mampu menaggungnya.
Pada waktu masih kanak-kanak dan remaja, mereka memang dipaksa oleh orang tua mereka untuk mengenakan busana dan berkelakuan seperti layaknya seorang pria.
Alasannya cukup klise, demi menjaga nama baik keluarga.
Benar-benar suatu penderitaan batin yang luar biasa berat.
Mereka juga dicap oleh masyarakat sebagai kaum yang meresahkan masyarakat. Mereka selalu saja diidentikkan dengan kejahatan, alat pemuas sex, pengamen jalanan. Peluang kerja yang agak lumayan yang bisa mereka masuki mungkin sebagai penata rambut dan busana atau sebagai pelawak yang kehadirannya hanya untuk diolok-olok oleh para penontonnya.
Tapi perlu diingat, tidak semua waria memiliki bakat di bidang tata rambut dan tata busana, apalagi bakat menjadi seorang pelawak.
Waria memang dikondisikan untuk jadi seperti itu. Itu semu karena sikap penolakan dari masyarakat. Bayangkan saja, bahkan untuk menjadi seorang ”babu” yang tidak menuntut banyak keahlian saja rasa-rasanya masih sulit. Belum banyak keluarga yang mau menerima waria sebagai pembantu rumah tangga di rumah mereka.
Mereka terpaksa turun ke jalan menjadi pekerja sex hanya semata karena tuntutan kebutuhan untuk bisa tetap bertahan hidup. Itu bukan karena hasrat seksual dan keingginan mereka untuk having fun. Kalau hanya mengejar nafsu, toh mereka pun tidak akan menarik bayaran. Nyatanya para waria yang turun ke jalan sebagai pekerja sex hampir seluruhnya menarik bayaran.
Kalau seandainya mereka bisa memilih, toh mereka pun tak ada yang memilih untuk dilahirkan sebagai waria. Mereka pasti akan memilih untuk dilahirkan sebagai seorang wanita yang sempurnya.
Jujur saja, setelah mengikti acara ini aku jadi merasa malu dan bersalah karena persepsiku yang keliru selama ini dalam memandang waria.
Mereka juga manusia, sama seperti kita.
Mereka juga rindu untuk selalu dapat mencintai dan dicintai.
Kebetulan semalam aku baru saja menyelesaikan membaca buku yang ditulis oleh Merlyn, makanya sedikit banyak aku jadi bisa merasakan apa yang dirasakan oleh seorang waria.
Sudah saatnya memang bagi masyarakat kita untuk bisa menempatkan waria sebagaimana mestinya.
Bukankah nilai manusia dilihat dari kemampuan dan karya yang dia hasilkan dan bukannya dari kesempurnaan alat kelamin yang dimilikinya?
Manusia berpikir dengan otak dan bukan dengan alat kelamin.
Manusia juga merasa dengan hati dan bukan dengan alat kelaminnya.
Bukankah waria juga memiliki otak –pikiran – dan hati layaknya manusia ”normal” lainnya?
Lantas apa lagi yang membuat kita membatasi ruang gerak mereka?
Apakah masalah kesempurnaan alat kelamin sangat esensial bagi seseorang dalam berkarya dalam hidupnya?

17 comments:

Anonymous said...

Boedy, boleh tau judul bukunya? saya tertarik dengan tulisan kamu.
thanks.
suryo
suesaph@yahoo.com

Anonymous said...

hi...
saya ga tau kenapa tertarik dengan waria dan sebangsanya...padahal aku cw tulen dan normal loh...hehehe
dan karena ketertarikan ini, saya pengen bgt bikin skripsi tentang waria...
dan karena sama2 tgl dibandung...bisa bantu cari tau ttg perkumpulan2 waria di bandung ga?????
trimakasiiiii
-inzi-
itszhies_gift@yahoo.com

Anonymous said...

ye...ye...ye...
waria...waria...
lo ga nyadar pa ma yang telah kamu buat....
lo dah ngubah bentuk tubuh lo hanya untuk memuaskan dahaga diri lo sendiri.......
lo menjadi wanita yang ga sesungguhnya......
lo menjadi yang dipuja tapi hanya semu belaka.........
lo menjadi cantik tapi hanya bisa dipandang tanpa bisa dicoba........
waria......waria..........
kembalilah ke alam lelaki biasa...
...
-De Rose-

Anonymous said...

That's a great story. Waiting for more. Motel 6 dothan http://www.2006lexusis350.info/Contactlensimplantprocedures.html

Anonymous said...

Excellent, love it! Free picture of hairy fat women conference calling ringtones

Anonymous said...

to: -de rose-

bwat ap lo hidup di dunia ini klo ga bs nrima perbedaan. mendingan lo hdp di hutan aj deh. wakakkak.........

Anonymous said...

BOEDY, SAYA SEDANG MEMBUAT SKRIPSI MENGENAI WARIA, KALAU BOLEH TAHU JUDUL BUKU2 MEREKA APA YA?KALAU ANDA PUNYA REFERENSI, BUKU, ARTIKEL, ATAU INFORMASI TOLONG HUBUNGI SAYA DI EMAIL SAYA, TERIMAKASIH..

rere
rr_taz12@yahoo.com

Anonymous said...

boedy, boleh tau judul bukunya gak? gw lg skripsi nih. plizzzz ya.

Anonymous said...

Great..
I really hope there will be more and more people who care about them.
Good job, Boed = )

Boedy said...

Sorry friends, aku baru lihat comment di blog ku.
Oh ya next time kalo mau kontak via email aja yach ke setia.budi@eng.maranatha.edu

makmun said...

hay, budi. kenalin jg nih. aq fery di jepara. sekarang aq juga lg buat skripsi tentang waria dan islam. bantuin juga aku ya. juga buat temen2 yang lagi on di blognya budi. siapa saja bisa diskusi ma aku lah. sekedar info, aku tlah miliki beberapa data ttg waria n keislaman. so, kita bisa saling bagi2 kan.....trus biar lebih intens lagi, siapa aja boleh maen di email aku. nih alamatnya....hauqo_laura@yahoo.co.id
sebelumnya makasih buat budi n orang2 yang peduli waria..
juga buat shuniyya ruhama habiballah, di mana u berada? ku lagi intens ngaji pikiranmu nih. kita peduli bgt ma misi mulia kamu. bud, lo ngerti gak jalan yg bisa nemuin aku ma shuniyya?..ato siapa ja lah.. cos aku blm nemuin situs/blog/ ato apa ja milik dia.tanks tuk semua yg baca di blognya budi ini. da...

dreamwithme said...

to : de Rose
Benar tuch u gak tau sakitnya menjadi seorang waria. Mereka juga khan manusia. Punya hati jiwa dan perasaan. Mungkin diantara mereka ada yang lebih mulia dibanging elooo yang hati dan jiwanya penuh dengan setan. Elooo yang perlu bertobat bukan waria. Tobat itu masalah hati pikiran dan jiwa untuk berbuat dan berpikiran positif. OK de Rose. Moga2 iblis dalam hati n jiwa lu keluar secepatnya. Ameeeen.

gupur said...

saya suka dek shunniyya yang sangat cantik!!!!sekali

Anonymous said...

bud n siapa aja yg tau buku2 tantang waria tolong di infokan ke saya ya? thank....

Anonymous said...

waria tuh pilihan and tuntutan dari diri pribadi lagi. jadi mereka bisa aja milih buat normal asal ada pengaruh, motivasi and dukungan yang kuat and positif

Anonymous said...

Gw sangat keberatan dgn pernyataan lo yg bilang, bahwa sesungguhnya seorang waria adalah seorang wanita yang terjebak dalam tubuh pria.
Sejak dilahirkan, mereka tidak pernah merasa diri mereka sebagai seorang pria walaupun secara fisik mereka memiliki bentuk tubuh layaknya seorang pria.

Itu pandangan yg luar biasa keliru. Klo ada yg bilang seperti itu, brati orang tsb secara ga langsung ingin bilang Tuhan salah membentuk mereka. Menyalahkan Tuhan, intinya. Aq hanya mau bilang homoseksualitas itu godaan setan. Titik. Itu permainan setan. Tergantung manusianya bisa nolak ato ga. Dan pastinya manusia ga bisa nolak n malah seolah menyalahkan Tuhan atas apa yg mereka lakukan. Hu-uh. Biarlah Tuhan yg menghukum mereka klak.

From: www.emmanuelthespecialone.blogspot.com

Anonymous said...

Allah itu menciptakan manusia cuma dua macem laki-laki dan perempuan. Jd sebenernya gak ada manusia yg dilahirkan sbg waria. Yg menjadikan mereka sebagai waria itu ya mereka sendiri. Jd buat gw waria itu ya sebuah pilihan hdp bkn krn dilahirkan seperti itu. Tp kita sebagai manusia hendaknya bisa menghargai sesama dengan segala kekurangan dan kelebihan yg mereka miliki